USAI BERCERAI – 7

USAI BERCERAI – 7

Oleh: Dewi Fatimah

“Ya Allah, bolehkah hamba geer?”

Aku mengangkat kedua tangan di sepertiga malam terakhir. Rutinitas beberapa pekan belakangan. Selain memohon ampunan, juga meminta petunjuk. Bagaimana meraih kembali Maysa Al-Mahira. Lalu aku merasa … Allah telah membuka jalan itu perlahan-lahan.

Jadi, bolehkah aku yang selama ini jauh dari kata takwa, jauh dari-Nya, tiba-tiba kegeeran, merasa apa yang telah dipinta mendapat jawaban?

Sejak bertandang ke rumahnya hari itu, aku merasa jalanku buntu. Meski kadang terbesit untuk mengunjungi toko kue miliknya, tapi aku takut tidak berani menyapa. Ada pegawai-pegawainya yang mengenalku. Aku yakin, mereka sudah mencapku sangat buruk karena telah menceraikan wanita sebaik bosnya.

Hampir setiap waktu aku berharap, Allah mempertemukan kami kembali. Entah di jalan, di warung makan, di tempat tambal ban, di tempat wisata, di mana saja. Lalu tiba-tiba di tempat itu, yang sama sekali tak terduga. Meskipun memang belum berjumpa, tapi peluang itu seakan nyata.

“Semoga ini awal yang baik,” bisikku dengan tekad yang kuat.

Paginya, aku menjalani hari yang tak biasa. Seluruh sel dalam tubuh seakan riuh, bersemangat. Urat nadi berlompat-lompat. Aku merasakan lonjakan energi yang berlebihan, butuh diluapkan.

Sembari bersenandung kecil, aku membereskan rumah yang … penampakanannya hampir mirip gudang. Wajar. Dua bulan tidak mendapatkan sentuhan wanita dan bagi laki-laki sepertiku, yang penting bisa lewat dan tidur nyenyak. Itu sudah cukup. Lalu pagi ini, aku benar-benar beberes seolah ada seseorang yang istimewa yang akan singgah dan menilai.

Setelah rumah terlihat layak, aku menyiram anggrek. Menata ulang pot-potnya, dan memotong daun-daun yang sudah tak enak dilihat. Kupastikan Maysa akan senang melihat bunga kesayangannya tumbuh indah dan sehat.

Maysa akan ke sini? Em … mungkin bukan hari ini atau besok atau lusa atau pekan depan. Tapi suatu saat nanti.

Ya, suatu saat nanti jika Allah menghendaki.

*

Selama di kantor, pikiranku sibuk mengatur strategi. Bagaimana agar bisa bertemu Maysa esok hari. Setengah mati otakku berusaha konsentrasi pada laporan audit yang sudah ditagih berkali-kali. Namun … argh! Gagal lagi dan gagal lagi!

“Maysa …,” aku mendesis geregetan, “bisa-bisanya kamu ….” Tanganku mengepal, mengambang. Lekas bibirku beristigfar berulang-ulang. Meredam gejolak yang kian menggila dan garang.

“Hei, Reyhan! Kenapa?” Bu Maya, kepala sub bidang, menegur. Mungkin aku terlihat seperti orang frustasi?

“Enggak papa, Bu.” Aku menyandarkan punggung di kursi, berlagak santai sambil meniup-niup ujung rambut yang menjuntai di kening. Baru sadar sudah sepanjang ini.

“Pusing sama temuan, kali, Bu,” seloroh yang lain.

Bu Maya terbahak menanggapi. “Biasa kalau temuan banyak, mah. Migas, gitu loh! Nikmati aja, Rey.”

Aku menyemburkan napas. Lega. Kecurigaan di wajah wanita menjelang paruh baya itu telah sirna.

“Oke, Bu. Dinikmati sambil minum kopi kayaknya enak, ya?” Aku beranjak, menuju ‘pojok makanan’ ruangan. Membuat kopi hitam sambil menanggapi celoteh orang-orang, yang kutahu tujuannya cuma meredam stres akibat laporan yang penuh dengan temuan.

Beginilah audit obyek strategis negara. Anggaran yang digunakan besar. Sudah pasti banyak dana yang penggunaannya melenceng dari aturan.

Begitu kembali ke kursi, aku memusatkan konsentrasi pada layar laptop 11 inchi. Memandangi tulisan-tulisan yang begitu memusingkan. Aku pun menyeruput kopi yang hanya kububuhi sedikit gula. Biasanya sih, rasa pahit berpadu panas membantu otak kembali segar.

Lalu terlintas ide agar bisa bertemu Maysa.

Eh, kok malah Maysa lagi?

Memang dari tadi mencari-cari, kan? Gimana sih, Reyhan ini! Pelan, aku menepuk jidat sendiri.

Dan keesokan harinya … di sinilah aku. Berhadapan dengan Ustaz Hadi di jam 16.00 WIB. Sengaja minta jadwal dimajukan dengan alasan ada lembur ‘berjamaah’ di kantor dan itu memang fakta, aku tidak mengada-ada.

Sore ini aku satu kelas dengan mereka-mereka yang sudah di level tahfiz. Fokusnya menghafal. Kelima orang di sampingku ini sudah hampir menyelesaikan 2 juz Alquran. Dalam hati, aku bertanya, kamu kapan, Reyhan?

Mendengarkan mereka setoran, aku menunduk dalam. Seperti merasakan gerimis di tengah kemarau panjang. Lafal demi lafal mengalun syahdu, mengirim kesejukan. Hingga tak terasa, kedua mataku basah. Padahal aku tidak tahu makna dari ayat yang mereka baca. Tapi … itulah indahnya Alquran, menyentuh kalbu siapa saja yang mau mendengarkan. Menundukkan setiap jiwa yang memang mencari kebenaran.

“Pak Reyhan,” tegur Ustaz hadi. Halus seperti biasa tapi sanggup membuatku gelagapan.

“Iya, Ustaz,” sahutku setelah diam-diam menyeka air mata.

Ustaz muda itu tersenyum ramah kepada semua santri di hadapannya. “Bapak-bapak ….”

Oke. Pause dulu bagian ini.

Bapak-bapak? Iya, kelima orang santri yang duduk berjajar ini usianya kira-kira sudah masuk lima puluhan. Namun semangatnya untuk belajar Alquran jangan diragukan. Dari cara mereka membaca saja sudah terdengar kesungguhan yang datang dari hati terdalam.

“… perkenalkan, ini Pak Reyhan. Baru satu bulanan belajar di sini,” lanjut Ustaz Hadi.

Kami pun saling menjabat tangan.

Setelah berbasa-basi sebentar, mereka pamit pulang. Tinggalah aku sendirian, berhadapan dengan ustaz berkarisma ini.

“Kemarin materinya sampai mana, Pak?” tanyanya dengan wajah tenang.

“Mm …,” aku membuka buku tajwid, “sampai idgham mimi.”

Ustaz Hadi tersenyum, lalu menulis di papan. Mengajakku me-refresh materi sebelumnya. Idghom mimi. Yang dibaca mendengung jika ada mim sukun bertemu dengan mim.

“Contohnya apa, Pak?” tanya beliau.

“In kuntum mu’minūn …,” jawabku.

Ustaz Hadi mengangguk-angguk, lalu melanjutkan materi berikutnya.

Saat pembelajaran akan berakhir ….

“Mau langsung pulang, Ustazah?” tanya tenaga administrasi di depan. Entah kepada siapa.

“Iya.”

Detak jantungku terhenti, lalu kembali berdegub dengan keras hingga dadaku terasa nyeri. Itu … suara Maysa.

“Enggak nunggu yang di dalem, Ustazah?” tanya tenaga administrasi yang membuatku mengulum senyum karena geer.

“Yang di dalem? Siapa?”

“Ustaz …,” penjaga administrasi berdehem, “yang masih ngajar.”

Tubuhku membeku sesaat. Kulirik sosok di hadapanku. Tertangkap tarikan tipis di bibir kemerahan itu.

“Kenapa harus ditunggu?” tanya Maysa lagi.

“Ah, Ustazah Maysa.”

“Loh, saya nanya serius ini.” Maysa tertawa kecil. Tawa yang kurindukan, yang tak terdengar selama dua bulan.

Ustaz Hadi menghela napas panjang. Mungkin meredam debaran dalam dadanya. Ia pun menatapku dengan senyum mengembang, lalu menutup pertemuan.

“Saya keluar dulu, ya, Pak?” pamitnya ketika aku membereskan buku pelajaran.

“Iya, Ustaz,” sahutku dengan hati tersayat.

Tidak biasanya ia keluar duluan. Apakah memang ada hubungan spesial di antara mereka? Secepat inikah, Maysa?

“Yah, ustazahnya baru saja pulang, Ustaz,” seloroh penjaga administrasi.

“Ustazah siapa?” tanya Ustaz Hadi pura-pura tak mengerti.

“Ah, Ustaz ini sama saja. Kita semua sudah tahu, Ustaz.”

“Tahu apa?”

“Ck. Ya sudahlah. Yang penting ditunggu kabar baiknya, Ustaz.”

Ustaz Hadi tertawa renyah. “Antum ini.”

Aku hanya bisa menelan ludah. Menyadari sayatan di hati yang kian bertambah.

*

Pada pemilik sepertiga malam terakhir, Yang Maha Tahu. Aku kembali bersimpuh. Mengadu, bertanya, dan merenung.

Seperti habis terbang tinggi, membumbung, lalu tiba-tiba jatuh, terhempas begitu saja. Tulang-tulang terasa remuk. Persendian seperti tak lagi pada tempatnya.

“Hamba malu sudah terlalu geer,” aku mengadu.

“Apakah ini suatu teguran atau semacam hukuman, Ya Allah?” aku bertanya.

Ya, hukuman. Karena telah menyakiti wanita yang bahkan tidak pantas untuk disakiti. Seorang istri yang begitu berbakti.

Aku merenung. Ingatan awal bertemu dengan Ratu terputar kembali. Saat di mana, kupikir aku masih begitu mencintainya. Lalu setelah menyaksikan derai air matanya, aku benar-benar ingin kembali, memperjuangkannya.

Namun pantaskah disebut perjuangan jika malah kehilangan sesuatu yang lebih berharga? Bukankah itu kebodohan yang hanya jadi bahan tertawaan seluruh makhluk di dunia?

Ya, kebodohan. Sesuatu yang sangat kusesali. Terlebih lagi, lambat kusadari bahwa rasa yang ada untuk Ratu saat ini bukanlah cinta. Melainkan rasa kasihan belaka.

Kasihan melihatnya kembali didera sengsara. Dan aku keliru telah hadir melebihi batas yang dibolehkan agama.

Aku menghela napas dalam-dalam. Mengurai kesesakan.

Untuk Maysa …. Ia memang pantas bersanding dengan Ustaz Hadi. Seperti kataku dulu. Bahwa ia berhak mendapatkan lelaki saleh, yang akan membawanya ke surga.

Jika Ustaz Hadi membuatnya bahagia, maka aku akan belajar untuk ikut berbahagia. Mungkin tidak mudah. Tapi aku yakin bisa. Entah butuh waktu berapa lama.

Lalu untuk hati ini …. Bersabarlah. Kata orang, waktu adalah penyembuh luka.

*

Patah hati memang harus segera diobati. Jika tidak, berpotensi terjangkit infeksi.

Maka sedapat mungkin aku bersikap normal di kantor. Menenggelamkan diri pada aneka pekerjaan alih-alih kembali memikirkan Maysa. Berusaha se-enjoy mungkin menghadapi layar datar di hadapan, sambil menikmati kopi setengah pahit dan camilan yang dibawa beberapa rekan.

Orang-orang di ruangan ini saling melempar candaan. Baguslah. Hari ini aku butuh banyak tertawa. Selain mengusir kejenuhan juga lumayan mengusir kesedihan.

Laporan pun akhirnya jadi! Siap dicetak dan dimintakan tanda tangan.

“Selesai, Rey?” tanya salah satu senior.

“Yo’i, Pak!” sahutku dengan semangat.

“Wah, tungguin gue, dong! Main slesai aje, lu!” seru yang lain.

Aku tertawa pendek. “Saatnya yang muda selesai duluan, Pak. Biar SPJ cepat cair.”

“Ah elu, Rey. Belom punya anak mah, santai aja. SPJ cair belakangan juga gak bakalan ada yang protes.”

Ya, dari dulu juga enggak ada yang protes. Maysa mana pernah mengeluh atau menggerutu soal uang yang kuberikan?

Astagfirullah! Aku menggeleng cepat. Mengusir bayangan Maysa yang tiba-tiba berkelebat.

Begitu berkas selesai dicetak, aku menyerahkannya pada ketua tim. Setelahnya beranjak ke luar ruangan, ke kamar mandi. Ada ‘panggilan alam’ mendesak. Namun seluruh toilet pria di lantai ini ‘berpenghuni’.

“Cacing karatan!”

Eh, sori, keceplosan. Kebiasaan mengumpat susah hilang.

Dengan langkah tergesa, aku turun ke lantai bawah.

Setelah hajat tertunaikan, aku berjalan santai, kembali ke ruangan yang berada di lantai sembilan.

“Reyhan!” Seseorang memanggil ketika diriku berdiri di depan lift. Menunggu pintu terbuka.

Aku memelintir kepala dengan cepat ke arah sumber suara. Dahiku mengernyit otomatis ketika mendapati sosok yang secara ajaib berada di sini.

Sony.

-x-

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *